TUGAS KLIPING
Kliping ini dibuat untuk memenuhi tugas individu
Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : Sintha Sih Dewanti, M.Pd.Si

Disusun oleh :
Sem. I/ Pendidikan Matematika
Shafa Ridha Sari Atsmara (17106000001)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
A.    Sistem Pendidikan pada Masa Hindu Budha
Pembahasan sejarah Hindu Budha di Indonesia kerapdi awali dari kemunculan beberapa kerajaan di abad ke-5 M, antara lain: kerajaan Hindu Buddha di Kutai [Kalimantan]. Di Jawa barat muncul kerajaan Hindu Tarumanegara.Pada masa ini lembaga-lembaga pendidikan telah ada di Indonesia khususnya di Jawa sejak periode permulaan.Pada masa ini pendidikan melekat dengan agama.
Sistem pendidikan pada masa lalu baru dapat terekam dengan baik pada masa Hindu-Buddha.Menurut Agus Aris Munandar dalam tesisnya yang berjudul Kegiatan Keagamaan di Pawitra Gunung Suci di Jawa Timur Abad 14—15(1990).Sistem pendidikan Hindu-Buddha dikenal dengan istilah karsyan.Karsyan adalah tempat yang diperuntukan bagi petapa dan untuk orang-orang yang mengundurkan diri dari keramaian dunia dengan tujuan mendekatkan diri dengan dewa tertinggi.Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala.

1.      Patapan
Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan.Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial.Hal ini dikarenakan jumlah Resi/Rsi yang bertapa lebih sedikit atau terbatas. Tapa berarti menahan diri dari segala bentuk hawa nafsu, orang yang bertapa biasanya mendapat bimbingan khusus dari sang guru, dengan demikian bentuk patapan biasanya hanya cukup digunakan oleh seorang saja.

2.      Mandala
Mandala, atau disebut juga kedewaguruan.Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya.Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara.Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru.

Dalam perkembangannya, kebudayaan Hindu-Budha membaur dengan unsur-unsur asli Indonesia dan memberi ciri-ciri serta coraknya yang khas.Sekalipun nanti Majapahit sebagai kerajaan Hindu terakhir runtuh pada abad ke-15, tetapi ilmu pengetahuannya tetap berkembang khususnya di bidang bahasa dan sastra, ilmu pemerintahan, tata negara dan hukum. Beberapa karya intelektual yang sempat lahir pada zaman ini antara lain:
a) Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa (Kediri, 1019)
Kitab Kakawin Arjuna Wiwaha adalah Kakawin pertama yang berasal dari Jawa Timur , Katya sastra ini ditulis oleh Mpu Kanwa pada masa pemerintahan prabu Airlangga, yang memerintah di Jawa Timur dari tahun 1019 sampai dengan 1042 M. sedangkan Kakwin ini di perkirakan digunah sekitar 1030M.
Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Bidadari ini diperintahkan untuk menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Supraba dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setela itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari ini.
b) Bharata Yudha karya Mpu Sedah (Kediri, 1157)
Peninggalan Kerajaan Kediri Kitab Kakawin Bharatayudha dikarang oleh Mpu Sedah dan juga Mpu Panuluh dengan isi Kitab yang menceritakan tentang perjuangan yang dilakukan oleh Raja Jenggala, Jayabaya dan akhirnya berhasil menaklukan Panjalu. Kisah perjuangan Raja Jayabaya ini dianalogikan menjadi kisah peperangan dari Kurawa dan Pandawa di dalam kisah Mahabarata. Prasasti ini mnurut perkiraan dibuat pada tahun 1079 Saka atau 1157 Masehi di pemerintahan Prabu Jayabaya dan selesai ditulis pada 6 November 1157. Pada bagian awal kitab sampai ke kisah Prabu Salya ke medan perang merupakan karya dari Mpu Sedah dan kemudian dilanjutkan oleh Mpu Panuluh.
Menurut cerita, saat Mpu Sedah ingin menulis tentang kecantikan dari Dewi Setyawati permaisuri dari Prabu Salya, ia memerlukan contoh agar tulisannya bisa berhasil sehingga putri Prabu Jayabaya diberikan, namun Mpu Sedah berbuat tidak baik sehingga ia dihukum dan karyanya diberikan pada orang lain. Namun, menurut Mpu Panuluh, sesudah karya dari Mpu Sedah hampir seleai yakni saat menceritakan Prabu Salya yang berangkat ke medan perang maka ia tidak tega untuk melanjutkan ceritanya tersebut sehingga meminta Mpu Panuluh untuk meneruskan kitab tersebut dan cerita ini diungkap pada akhir kakawin Bharatayuddha.
c) Hariwangsa karya Mpu Panuluh (Kediri, 1125)
Kitab Hariwangsa adalah sebuah karya sastra Jawa Kuno yang menceritakan bentuk kakawin Prabu Kresna titisan Batara Wisnu yang menikah dengan Dewi Rukmini dari negeri Kundina, yakni putri dari Prabu Bismaka dan Rukmini merupakan titisan dari Dewi Sri. Hariwangsa jika diartikan secara harafiah berarti garis keturunan Wisnu. Isi dari kitab ini menceritakan tentang Kresna yang berjalan di taman dan dikunjungi oleh Batara Narada yang mengatakan jika calon istrinya adalah titisan dari Dewi Sri, akan tetapi Prabu Jarasanda sudah ingin menikahkan dengan Raja Cedi bernama Prabu Cedya.
Prabu Kresna lalu menculik Dewi Rukmini dan pada malam sebelum pesta pernikahan, Kresna datang lalu membawwa Rukmini, sementara banyak tamu yang sudah datang. Prabu Bismaka menjadi marah dan berunding dengan raja lain yang datang dan mereka semua takut menghadapi Kresna yang sangat sakti tersebut. Jarasanda lalu meminta Yudistira dan para Pandawa untuk membantu mereka dan kemudian utusan di kirim ke Yudistira yang membuatnya menjadi bingung, sebab tugas kesatria adalah melindungi dunia serta berperang melawan hal buruk.
Kresna sendiri adalah sahabat dari para Pandawa, akan tetapi karena perbuatannya tersebut maka ia harus dihukum. Bima menjadi marah besar dan ingin membunuh utusan Jarasanda tersebut namun Arjuna mencegahnya dan tidak beberapa lama kemudian, mereka dikunjungi oleh duta Prabu Kresna yang ingin meminta bantuan. Akan tetapi karena sudah membuat janji, maka Yudistira menolaknya sambil berpesan pada duta tersebut jika Prabu Kresna tidak perlu khawatir sebab ia sangat sakti. Para Pandawa lima lalu berangkat ke negeri Karawira tempat berkuasanya Prabu Jarasanda yang lalu menyerang Dharawati, negeri Prabu Kresna.
Kresna lalu bersipa menghadapi musuh dan dibantu oleh kakanya Sang Baladewa dan mereka berdua membunuh banyak musuh termasuk Jarasanda, para korawa, Bima, Nakula dan Sahadewa, sedangkan Yudistira dibius oleh Kresna sehingga tidak mampu bergerak. Kresna lalu berperang melawan Arjuna dan hampir saja kalah, kemudian turun Batara Wisnu dari surga sehingga Kresna yang merupakan titisan Wisnu pun berubah menjadi Wisnu. Yudistira yang sudah siuman lalu meminta Wisnu agar menghidupkan semua yang tewas di medan perang dan Wisnu mengabulkannya dengan menghujani amerta sehingga semua bisa hidup kembali termasuk Jarasanda dan mereka semua datang ke pernikahan Kresna di Dwarawati. Kitab ini ditulis oleh Mpu Panuluh di saat pemerintahan Prabu Jayabaya.
d) Gatotkacasraya karya Mpu Panuluh
Kitab Gatotkacasraya dikarang oleh Mpu Panuluh yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan dari Gatotkaca yang sudah berhasil menyatukan Abimayu yang adalah putra dari Arjuan dengan Siti Sundhari.
e) Smaradhahana karya Mpu Dharmaja (Kediri, 1125)
   Kitab SmaradhanaKitab Smaradhana dikarang oleh Mpu Dharmaja yang isinya menceritakan tentang kisah Dewa Kama serta Dewi Ratih yang merupakan sepasang suami istri menghilang secara misterius sebab terkena api yang keluar dari mata ketiga Dewa Syiwa. Saat Batara Siwa sedang pergi untuk bertapa, Indralaya dikunjungi oleh para musuh yakni raksasa dengan rajanya bernama Nilarudraka. Karena Batara Siwa sangat serius dengan tapanya, maka ia seolah lupa dengan keadaan di khayangan. Agar Batara Siwa bisa teringat dan kembali ke khayangan, maka paa dewa mengutus Batara Kamajaya untuk menjemput Batara Siwa. Batara Kamajaya mencoba berbagai cara seperti panah bunga, namun Batara Siwa tetap tidak bergeming dari tapanya yang akhirnya dilepaskannya panah pancawisesa yakni hasrat mendengar yang merdu, hasrat mengenyam yang lezat, hasrat meraba yang halus, hasrat mencium yang harum dan hasrat memandang yang serba indah.
Karena panah pancawisesa tersebut, akhirnya Batara Siwa merasa rindu dengan Dewi Uma, akan tetapi saat mata ketiganya yang berada di tengah dahi mengetahui jika itu perbuatan dari Batara Kamajaya, maka ia menatap Batara Kamajaya yang membuat dirinya hancur. Dewi Ratih yang merupakan istri dari Batara Kamajaya lalu melaksanakan bela dengan menceburkan dirinya dalam api yang telah membakar suaminya dan para dewa memanjatkan ampun atas semua kejadian tersebut supaya mereka bisa dihidupkan kembali, akan tetapi permintaan tersebut tidak dikabulkan dan jiwa sabda Batara Kamajaya turun ke dunia lalu masuk ke hati laki-laki, sementara Dewi Ratih masuk ke jiwa wanita.
Saat Siwa duduk berdua dengan Dewi Uma, para dewa datang mengunjungi termasuk Dewa Indra beserta gajahnya Airawata yang sangat dahsyat sehingga membuat Dewi Uma ketakutan melihatnya. Dewi Uma lalu melahirkan putra berkepala gajah yang dinamakan Ganesha. Saat raksasa Nilarudraka datang ke khayangan, maka Ganesha bertanding melawannya dan membuat Ganesha terus bertambah besar dan semakin kuat sehingga musuh bisa dikalahkan dan para dewa bersukacita.
f) Negara Kertagama karya Mpu Prapanca (Majapahit, 1331-1389)
Naskah Lontar Negara Kertagama

Kakawin Nagarakretagama (atau juga disebut dengan nama kakawin Desawarnana (DeÅ›awarṇana) bisa dikatakan merupakan kakawin Jawa Kuno karya Empu Prapañca yang paling termasyhur. Kakawin ini adalah yang paling banyak diteliti pula. Kakawin yang ditulis tahun 1365 ini, pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1894 oleh J.L.A. Brandes, seorang ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi KNIL di Lombok. Ia menyelamatkan isi perpustakaan Raja Lombok di Cakranagara sebelum istana sang raja akan dibakar oleh tentara KNIL.

g) Arjunawijaya karya Mpu Tantular (Majapahit, ibid)
Kakawin Arjunawijaya adalah salah satu naskah klasik berbahasa Jawa Kuno yang digubah oleh Mpu Tantular[1] di mana isinya menguraikan peperangan antara Prabhu Arjuna Sahasrabhahu melawan pendeta Parasu Rama, berdasarkan Uttara Kanda, bagian terakhir Ramayana (Sansekerta). Cerita ini sangat populer terbukti dari adanya pelbagai naskah dalam bahasa Bali dan Jawa Kuno. Versinya dalam bahasa Jawa Baru dalam bentuk tembang, diusahakan oleh Raden Ngabehi Sindusastra dari Surakarta, diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1930Kakawin Arjunawijaya dikenal dengan Lampahan Arjuna Sasrabahu, banyak dipertunjukkan dalam pergelaran wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Naskah ini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dibahas dan diterbitkan sebagai bahan thesis pada Universitas Nasional di CanberraAustralia oleh Dr. Supomo pada tahun 1971.
Isi Lontar Kakawin Arjuna Wijaya (tersimpan di pusat dokumentasi dinas kebudayaan provinsi Bali)

h) Sotasoma karya Mpu Tantular
Kakawin Sutasoma adalah sebuah kakawin dalam bahasa Jawa Kuno. Kakawin ini termasyhur, sebab setengah bait dari kakawin ini menjadi motto nasional Indonesia: Bhinneka Tunggal Ika Motto atau semboyan Indonesia tidaklah tanpa sebab diambil dari kitab kakawin ini. Kakawin ini mengenai sebuah cerita epis dengan pangeran Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat kitab ini mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha. Kakawin ini digubah oleh Empu Tantular pada abad ke-14.
i) Pararaton (Epik sejak berdirinya Kediri hingga Majapahit).
Serat Pararaton, atau Pararaton saja (bahasa Kawi: "Kitab Raja-Raja"), adalah sebuah kitab naskah Sastra Jawa Pertengahan yang digubah dalam bahasa Jawa Kawi. Naskah ini cukup singkat, berupa 32 halaman seukuran folio yang terdiri dari 1126 baris. Isinya adalah sejarah raja-raja Singhasari dan Majapahit di Jawa Timur. Kitab ini juga dikenal dengan nama "Pustaka Raja", yang dalam bahasa Sanskerta juga berarti "kitab raja-raja". Tidak terdapat catatan yang menunjukkan siapa penulis Pararaton.
Pararaton diawali dengan cerita mengenai inkarnasi Ken Arok, yaitu tokoh pendiri kerajaan Singhasari (1222–1292). Selanjutnya hampir setengah kitab membahas bagaimana Ken Arok meniti perjalanan hidupnya, sampai ia menjadi raja pada tahun 1222. Penggambaran pada naskah bagian ini cenderung bersifat mitologis. Cerita kemudian dilanjutkan dengan bagian-bagian naratif pendek, yang diatur dalam urutan kronologis. Banyak kejadian yang tercatat di sini diberikan penanggalan. Mendekati bagian akhir, penjelasan mengenai sejarah menjadi semakin pendek dan bercampur dengan informasi mengenai silsilah berbagai anggota keluarga kerajaan Majapahit.
Penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok bukan saja dinyatakan melalui panjangnya cerita, melainkan juga melalui judul alternatif yang ditawarkan dalam naskah ini, yaitu: "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok", atau "Kitab Raja-Raja atau Cerita Mengenai Ken Arok". Mengingat tarikh yang tertua yang terdapat pada lembaran-lembaran naskahadalah 1522 Saka (atau 1600 Masehi), diperkirakan bahwa bagian terakhir dari teks naskah telah dituliskan antara tahun 1481 dan 1600, di mana kemungkinan besar lebih mendekati tahun pertama daripada tahun kedua.


j)  Kitab Kresnayana
           

Peninggalan Kerajaan KediriPeninggalan Kerajaan Kediri selanjutnya adalah kitab kresnayana. Kitab Kresnayana dikarang oleh Mpu Triguna yang isinya menceritakan tentang riwayat hidup Kresna yakni seorang anak yang mempunyai kekuatan besar akan tetapi sangat senang menolong orang lain. Dalam Kitab ini diceritakan tentang Kresna yang sangat disukai oleh rakyat dan ia menikah dengan Dewi Rukmin.  Apabila diartikan secara harafiah, maka Kresnayana berarti perjalanan Krena ke negeri Kundina tempat Sang Rukmini. Dewi Rukmini, putri dari Prabu Bismaka di negeri Kundina tersebut sudah dijodohkan dengan Suniti yang merupakan raja negeri Cedi. Akan tetapi, ibu dari Rukmini yakni Dewi Pretukirti lebih ingin putrinya menikah dengan Kresna. Oleh sebab itu, pada hari besar yang semakin dekat, Suniti dan Jarasanda pamannya datang ke Kundina dan Pretukirti serta Rukmini secara diam-diam memberitahu Kresna untuk datang secepat mungkin dan Rukmini serta Krena melarikan diri. Mereka kemudian dikejar oleh Suniti, Jarasanda serta Rukma adik dari Rukmini sekaligus bersama dengan tentara mereka. Kresna lalu berhasil semua dan hampir saja membunuh Rukma, akan tetapi Rukmini mencegahnya lalu mereka berdua pergi ke Dwarwati lalu menggelar pesta pernikahannya disana.
k)  Kitab Sumarasantaka
Kitab Sumarasantaka dikarang oleh Mpu Monaguna yang menceritakan tentang kutukan Harini yakni seorang bidadari dari khayangan yang sudah berbuat kesalahan dan ia dikutuk menjadi manusia. Hari ini lalu tinggal di bumi selama beberapa saat sampai kutukan tersebut selesai.
Menjelang periode akhir tersebut, pola pendidikan tidak lagi dilakukan dalam kompleks yang bersifat kolosal, tetapi oleh para guru di padepokan-padepokan dengan jumlah murid relatif terbatas dan bobot materi ajar yang bersifat spiritual religius.Para murid disini selain belajar juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Jadi secara umum dapatlah disimpulkan bahwa:
a) Pengelola pendidikan adalah kaum brahmana dari tingkat dasar sampai dengan tingkat tinggi;
b) Bersifat tidak formal, dimana murid dapat berpindah dari satu guru ke guru yang lain;
c) Kaum bangsawan biasanya mengundang guru untuk mengajar anak-anaknya di istana disamping ada juga yang mengutus anak-anaknya yang pergi belajar ke guru-guru tertentu;
d) Pendidikan kejuruan atau keterampilan dilakukan secara turun-temurun melalui jalur kastanya masing-masing. 

B.     Sistem Pendidikan Masa Kolonial Belanda dan Jepang dengan Sistem Pendidikan Masa Indonesia Merdeka
1.      Sekolah Rendah (Lager Onderwijs)
a.       Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs)
1)      Sekolah Rendah Eropa (Europeesche lagereschool)
ELS pertama didirikan pada tahun 1817 di Batavia (Jakarta). Sekolah ini yang semula dimaksud untuk anak-anak miskin mula-mula bermutu rendah karena guru yang kurang berwewenang dan latar belakang murid yang kurang baik. Orang tua yang berada, yang tidak ingin anaknya bercampur dengan anak-anak golongan rendah lebih suka mengirim anaknya ke negeri Belanda atau sekolah swasta. Maka dirasakan perlunya sekolah khusus untuk anak-anak dari golongan tinggi dan pada tahun 1833 didirikanlah Eerste Europese Lagere School (ELS pertama). Oleh karena biaya sekolah Eerste Europese Lagere School (ELS pertama) cukup tinggi, maka mereka yang tidak sanggup harus memasuki ELS bukan pertama. ELS pertama menyajikan pendidikan yang lebih tinggi mutunya, tidak menerima anak-anak Indonesia sekalipun anak ningrat tinggi.
Tujuan ELS bukan lagi mendidik orang agar taat beragama, melainkan menjadi anak warga negara yang baik. Kurikulum terdiri atas mata pelajaran membaca, menulis, berhitung, bahasa Belanda, sejarah, ilmu bumi dan mata pelajaran lain. Menurut peraturan kurikulum dapat diperluas dengan mata pelajaran yang lebih tinggi seperti ilmu alam,dasar-dasar bahasa Perancis, bahasa Inggris dan Jerman, matematika dan lain-lain.
ELS seperti halnya semua sekolah lainnya dapat dipandang sebagai alat politik yang sepenuhnya dikuasai dan di awasi oleh pemerintah. Pengajaran bahasa Belanda memegang peranan utama dan meresapi semua pelajaran lainnya. Penguasaan bahasa itu milik yang sangat berharga dan merupakan kunci untuk menjadi pegawai. Kemampuan berbahasa Belanda hanya terbatas pada golongan terdidik, golongan intelektual yanng menduduki tempat yang terhormat dalam masyarakat.
Dengan mementingkan bahasa Belanda, maka pemerintah memperoleh alat yang sangat ampuh untuk mengontrol rakyat. Para inspektur sangat memperhatikan bahasa ini. Selain itu, alat-alat kontrol lainnya ialah sumpah setia dan rahasia dari setiap guru ELS, penggunaan buku yang ditentukan oleh pemerintah dan kurikulum yang uniform.
Anak Indonesia, sekolah yang bercorak Barat tak mungkin menjadi sekolah umum bagi seluruh rakyat, karena akan menjauhkan anak dari kebudayaannya. ELS yang sebagian besar ditetapkan di Nederland tak mungkin relevan dengan kebutuhan anak Indonesia. Namun ELS tetap dipertahankan demi kepentingan segelintir anak yang mungkin kembali ke tanah airnya.
2)      Sekolah Bumi Putera (Inlandscheschool) kelas satu (Eerse klasse) terdiri dari dua macam :
I.                   Sekolah Cina Belanda (Hollandscheschool Chineescheschool)
Hollandsch-Chineesche School) adalah sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda di Indonesia khususnya untuk anak-anak keturunan Tionghoa di Hindia Belanda saat itu. Sekolah-sekolah ini pertama kali didirikan di Jakarta pada 1908, terutama untuk menandingi sekolah-sekolah berbahasa Mandarin yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan sejak 1901 dan yang menarik banyak peminat.
Sebagai perbandingan, pada tahun 1915, sekolah-sekolah berbahasa Mandarin mempunyai 16.499 siswa, sementara sekolah-sekolah berbahasa Belanda hanya mempunyai 8.060 orang siswa.

II.                Sekolah Bumi Putera Belanda (Hollandscheschool Indlandscheschool)
Hollandsch-Inlandsche School (HIS) (sekolah Belanda untuk bumiputera) adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda. Sekolah ini, kali pertama didirikan di Indonesia pada tahun 1914[1] seiring dengan diberlakukannya Politik Etis. Sekolah ini ada pada jenjang Pendidikan Rendah (Lager Onderwijs) atau setingkat dengan pendidikan dasar sekarang. HIS termasuk Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar bahasa Belanda (Westersch Lager Onderwijs), dibedakan dengan Inlandsche School yang menggunakan bahasa daerah.
Sekolah ini diperuntukan bagi golongan penduduk keturunan Indonesia asli. Pada umumnya disediakan untuk anak-anak dari golongan bangsawan, tokoh-tokoh terkemuka, atau pegawai negeri. Lama sekolahnya adalah tujuh tahun.

III.             Sekolah Rendah dengan bahasa pengantar Bahasa Daerah
1)      Sekolah Bumi Putera (Inlandscheschool) kelas dua (Tweede klasee)
2)      Sekolah Desa (Volksschool)
Pada tahun 1907 diciptakanlah sekolahbaru, yakni Sekolah Desa. Di samping pelajaran membaca, menulis, dan berhitung juga di ajarkan pekerjaan tangan membuat keranjang, pot, genteng dan sebagainya. Yang digunakan sebagai tempat beljar sementara ialah pendopo, sambil mendirikan sekolah dengan bantuan murid-murid. Guru-guru diambil dari kalngan penduduk sendiri. Sekolah itu sendiri primitif dimana murid-murid duduk dilantai seperti di rumah sendiri, kaleng kosong yang diperoleh dari toko-toko cina digunakan sebagai alas untuk menulis. Sebidang tanah dipagari sebagai tempat untuk menggembala kerbau-kerbau saat mereka sedang belajar yang diawasi oleh seorang yang dewasa. Sekolah dibuka jam 09.00-12.00 dan 13.00-15.00.
Walaupun demikian sekolah ini tidak pernah mencapai tujuannya untuk menjadi lembaga pendidikanuniversal bagi seluruh masyarakat sebab:
·         .Biaya finansial yang menurut pemerintah tidak dapat ditanggungnya
·         .Mereka yang telah menikmatipendidikan formal menganggap dirinya tak layak bekerja di sawah.
Berbagai kemungkinan dapat di pertimbangkan untuk memperluas pendidikan. Sekolah Kelas Dua dianggap terlampau mahal, sehingga dicari tipe sekolah baru, yakni Sekolah Desa.
Walaupun kurikulum Sekolah Desa sangat sederhana namun masih di rasa kurang relevan dengankebutuhan rakyat desa. Walaupun ada saran untuk memperluas kurikulum Sekolah Desa Dengan pekerjaan tangan, pengetahuan tentang gejala-gejalayang dihadapi petanidalam kehidupan sehari-hari, dan sebagainya namun kurikulumnya tetap sangat sederhana
Sekolah Desa merupakan usaha pendidikan terbesar yang pernah dijalankan oleh pemerintah Belanda untuk memberi kesempatan kepada rakyat Indonesia dalam mengenyam pendidikan. Sekolah Desa sering dikecam karena kurikulumnya yang sederhana dan mutu guru serta pendidikannya yang rendah. Namun sekolah ini juga memberi kontribusi dalam menambah orang yang melek huruf, Sekolah Desa juga membawa pendidikan formal sampai ke pelosok pedesaan dan menjadi penyebar buah pikiran serta pengetahuan barat, menjadikan masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya pendidikan.
3)      Sekolah Lanjutan (Vervolgschool)
Sekolah Rakyat (ada juga yang menyebutnya Sekolah Desa) ini pertama kali didirikan tahun 1907 dan disediakan untuk anak-anak rakyat biasa yang tinggal di desa-desa. Lama belajarnya tiga tahun.19 Biaya sekolah biasanya di-harapkan ditanggung oleh pemerintah setempat dengan tambahan berupa subsidi dari pemerintah pusat. Pengetahuan yang diajarkan hanyalah kepandaian membaca, menulis, dan berhitung.
Di Jawa Barat, sekolah itu antara lain terdapat di desa-desa di lingkungan Kota Bandung, Cirebon, dan Ciamis. Di Batavia, Volkschool baru berdiri tahun 1921, kemudian berkembang sehingga pada tahun 1929 mencapai jumlah empat belas sekolah. Vervolgschool Kata vervolg artinya sambungan atau lanjutan.
Sekolah itu dibuka pada tahun yang bersamaan dengan tahun pendirian HIS, yaitu pada 1914 dan merupakan sekolah lanjutan dari Sekolah Rakyat (Volkschool) . Lama belajarnya tiga tahun dan disediakan untuk murid-murid Sekolah Rakyat yang berprestasi. Sekitar tahun 1915 di Jawa Barat, Vervolgschool dan Sekolah Kelas Satu/HIS telah berdiri hampir di tiap kabupaten.

4)      Sekolah Peralihan (Schakelschool)
Merupakan sekolah peralihan dari sekolah desa  (tiga tahun) kesekolah dasar dengan bahasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya lima tahun dan diperuntukan bagi anak-anak golongan bumi putra. Disamping sekolah dasar tersebut diatas masih terdapat sekolah khusus untuk orang Ambon seperti Ambonsche Burgerschool yang pada tahun 1922 dijadikan HIS. Untuk anak dari golongan bangsawan disediakan sekolah dasar khusus yang disebut sekolah Raja (Hoofdensschool). Sekolah ini mula-mula didirikan di Tondano pada tahun 1865 dan 1872, tetapi kemudian diintegrasi ke ELS atau HIS.

2.      Pendidikan Lanjutan / Pendidikan Menengah (Middelbaar Onderwijs)
a.       Sekolah Menengah Umum
MULO (Meer Uit gebreid lager school), sekolah tersebut adalah kelanjutan dari sekolah dasar yang berbasa pengantar bahasa Belanda. Lama belajarnya tiga sampai empat tahun. Yang  pertama didirikan pada tahun 1914.
1)      Bagian A
Pengetahuan Kebudayaan yang dibagi lagi menjadi:
                                                                   i. Bagian A1 : Sastra Timur
AMS (Algemene Middelbare School) adalah sekolah menengah umum kelanjutan dari MULO berbahasa belanda dan diperuntukan golongan bumi putra dan Timur asing. Lama belajarnya tiga tahun dan yang petama didirikan tahun 1915.
                                                                 ii. Bagian A2 : Klasik Barat
HBS (Hoobere Burger School) atau sekolah warga Negara tinggi adalah sekolah menengeh kelanjutan dari ELS yang disediakan untuk golongan Eropa, Didirikan pada tahun 1860.
2)      Bagian B
b.      Pendidikan Kejuruan (Vakonderwijs)
1)      Sekolah Pertukangan (Ambachts Leergang)

Sekolah pertukangan (Amachts leergang) yaitu sekolah berbahasa daerah  dan menerima sekolah lulusan bumi putra kelas III (lima tahun) atau sekolah lanjutan (vervolgschool). Sekolah ini didirikan bertujuan untuk mendidik tukang-tukang. didirikan pada tahun 1881.
2)      Sekolah Pertukangan (Ambachtsschool)
Sekolah pertukangan (Ambachtsschool) adalah sekolah pertukangan berbahasa pengantar Belanda dan lamanya sekolah tiga tahun menerima lulusan HIS, HCS  atau schakel. Bertujuan untuk mendidik dan mencetak mandor jurusanya antara lain montir mobil, mesin, listrik, kayu dan batu.
3)      Sekolah Teknik (Technisch Onderwijs)
Sekolah teknik (Technish Onderwijs) adalah kelanjutan dari Ambachtsschool, berbahasa Belanda, lamanya sekolah 3 tahun. Sekolah tersebut bertujuan untuk mendidik tenaga-tenaga Indonesia untuk menjadi pengawas, semacam tenaga teknik menengah dibawah insinyur.

4)      Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs)
Pendidikan Dagang (Handels Onderwijs). Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perusahaan Eropa yang berkembang dengan pesat.
5)      Pendidikan Pertanian (Landbouw Onderwijs)
Pendidikan pertanian (landbouw Onderwijs) pada tahun 1903 didirikan sekolah pertaian Yang menerima lulusan sekolah dasra yang berbahasa penganatar belanda. Pada tahun 1911 mulai didirikan sekolah pertanian (cultuurschool) yang terdiri dari dua jurusan, pertanian dan kehutanan. Lama belajaranya sekitar 3-4 tahun, dan bertujuan untuk menghasilkan pengawas-pengawas pertanian dan kehutanan. Pada rtahun 1911 didirikan pula sekolah pertanian menengah atas (Middelbare Landbouwschool) yang menerima lulusan MULO atau HBS yang lamanya belajar 3 tahun.




6)      Pendidikan Kejuruan kewanitaan (Meisjes Vakonderwijs)
Pendidikan ini merupakan kejuruan yang termuda. Kemudian sekolah yang sejenis yang didirikn oleh swasta dinamakan Sekolah Rumah Tangga (Huishoudschool). Lama belajarnya tiga tahun.

7)      Pendidikan Keguruan (Kweekschool)
Pada 1834, berkat VOC dan para missionaries berdiri sekolah pendidikan guru (Kweekschool) Nusantara. Pendidikan guru ini mula-mula diselenggarakan di Ambon pada tahun 1834. Sekolah ini berlangsung sampai 30 tahun dan dapat memenuhi kebutuhan guru pribumi bagi sekolah-sekolah yang ada pada waktu itu. Sekolah diselenggarakan oleh zading di Minahasa pada 1852 dan 1855 dibuka satu lagi di Tanahwangko (Minahasa). Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Melayu. Sebagai keputusan kelanjutan Raja, tanggal 30 September 1848, tentang pembukaan sekolah dasar negeri maka untuk memenuhi kebutuhan guru pada sekolah-sekolah dasar tersebut dibuka sekolah pendidikan guru negeri pertama di Nusantara pada 1852 di Surakarta didasarkan atas keputusan pemerintah tanggal 30 Agustus 1851. Sekolah ini mengalami pasang surut adanya perubahan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan sehingga beberapa sekolah ditutup dengan alas an penghematan keungan Negara. Kwekkscholl yang ditutup terletak di Magelang dan Tondano pada 1875, pada sidempun 1891, Banjarmasin 1893 dan makasar 1895. Penutupan sekolah ini akibat dari malaise.

Pada abad ke-20 sejalan dengan perkembangan dan kemajuan di bidang pendidikan maka pendidikan guru juga mengalami perubahan dan akhirnya terdapat 3 macam:
a.       Normalschool
Sekolah guru dengan masa pendidikan empat tahun dan menerima lulusan sekolah dasar lima tahun, berbahasa pengantar bahasa dearah.
b.      Kweekschool
Sekolah guru empat tahun yang menerima lulusan berbahasa Belanda.
c.       Hollandsch Inlandsche Kweekschool
Sekolah guru 6 tahun berbahasa pengantar Belada dan bertujuan menghasilkan guru HIS-HCS.

3.      Pendidikan Tinggi (Hooger Onderwijs)
a.       Pendidikan Tinggi Kedokteran
Pada tahun 1903, sekolah ini diubah menjadi STOVIA.  Tetapi versi lain menyebutkan, perubahan nama terjadi pada 1889, yaitu menjadi chool tot Opleiding van Inlandsche Geneeskundigen. Lalu, pada 1898, sekolah ini berubah nama lagi menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).
Pada tahun 1920, secara bertahap pendidikan STOVIA di daerah Kwini, Senen, dipindahkan ke Salemba (sekarang kampus Universitas Indonesia). Sedangkan gedung lama di daerah Kwini, Senen, sempat gonta-ganti fungsi sebelum ditetapkan sebagai Museum Kebangkitan Nasional pada tahun 1974.
Sementara itu, kebutuhan kolonialis akan tenaga kesehatan makin meningkat. Pada awalnya, penguasa kolonial memberi iming-iming berupa beasiswa dan perumahan gratis kepada orang-orang keturunan priayi. Tetapi syaratnya jelas: mereka harus siap bekerja dinas pemerintah. Umumnya, ditempatkan sebagai mantri cacar.
Namun, para priayi—yang kurang tertarik dengan pekerjaan sebagai dokter atau mantri—kurang tertarik masuk sekolah itu. Sekolah kekurangan murid. Akhirnya, pada tahun 1891, sekolah ini dibuka untuk umum. Situasi itu menyeret anak-anak priayi kalangan menengah.
STOVIA juga membebaskan mahasiswanya dari kewajiban membayar. Selain itu, mahasiswa juga mendapat alat-alat kuliah dan seragam gratis. Juga setiap mahasiswa menerima uang saku sebesar 15 gulden per-bulan. Hal Ini untuk mendongkrak minat orang muda masuk ke sekolah dokter. STOVIA sering disebut sekolah orang miskin
b.      Pendidikan Tinggi Hukum
Pendidikan hukum secara formal mulai dikenal masyarakat Indonesia pada tahun 1909 dengan dibukanya Rechtsschool (Sekolah Hukum) oleh Gubernur Jenderal J. B. van Heutsz dan dioperasikan dengan memberlakukan Reglement voor de Opleiding voor Inlandsche Rechtskundigen (Reglemen untuk Sekolah Pendidikan Ahli Hukum Pribumi), diundangkan dalam Stb.No. 93/1909. Rechtsschool bukanlah perguruan tinggi, melainkan setingkat Sekolah Menengah Kejuruan, lebih tepatnya penggabungan SMP 3 tahun + SMK 3 tahun. Atas dasar Ethische Politiek dan perkembangan ekonomi Belanda yang memaksa pemerintah Belanda membuka wilayah jajahannya untuk penanaman modal swasta, pembentukan Rechtsschool itu dimaksudkan untuk mendidik orang-orang Indonesia agar dapat menjadi hakim Landraad yang merupakan pengadilan sehari-hari (tingkat pertama) bagi golongan pribumi dan yang disamakan. Jadi, tujuan pendidikannya adalah untuk menghasilkan teknisi atau ahli hukum (terdidik). Namun makna atau tujuan politik pendirian Rechtsschool pada dasarnya adalah demi kepentingan Belanda sendiri yang memerlukan terpeliharanya ketertiban dan keamanan (rust en orde) di wilayah jajahannya untuk melancarkan penanaman modal dan mengembangkan industri.[4]:vii-viii
Masa studi Rechtsschool adalah 6 tahun yang terbagi dalam 2 bagian, yakni bagian "Persiapan" (voorbereidende afdeeling) selama 3 tahun, dan bagian "Keahlian Hukum" (rechtskundige afdeeling) untuk masa 3 tahun berikutnya. Yang dapat diterima menjadi murid Rechtschool adalah lulusan HIS (Sekolah Dasar pada masa kolonial) yang harus masuk bagian "Persiapan" terlebih dahulu. Bagi lulusan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO - Sekolah Menengah Pertama pada masa kolonial), dan Sekolah Menengah Pamong Praja atau MOSVIA dapat langsung diterima pada bagian "Keahlian Hukum". Pada bagian "Persiapan" diberikan mata pelajaran: Bahasa Belanda, Bahasa Perancis, Sejarah Umum, Matematika, dan Pengetahuan Alam (seperti pelajaran pada tingkat MULO/SMP). Pada bagian "Keahlian Hukum" diberikan mata pelajaran: Pengantar Ilmu Hukum, Tata Negara Belanda, Tata Negara Hindia Belanda, Hukum Pidana, Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Rakyat atau Volksrecht, Hukum Adat, Hukum Acara, Bahasa Melayu, dan Bahasa Belanda. Dan Gedung kampus RHS sekarang menjadi Gedung Utama Kementerian Pertahanan RI.

c.       Pendidikan Tinggi Tehnik
Belanda dan wilayah jajahannya di kawasan Nusantara, sebagai akibat pecahnya Perang Dunia Pertama. Technische Hoogeschool te Bandoeng (sering disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, atau THS) berdiri tanggal 3 Juli 1920 sebagai sekolah tinggi pertama di Hindia Belanda.[note 6] TH Bandung dibuka pertama kali dengan satu fakultas yaitu de Faculteit van Technische Wetenschap yang hanya mempunyai satu bagian yaitu de afdeeling der Weg- en Waterbouwkunde. Kampus ITB merupakan tempat di mana presiden Indonesia pertama, Soekarno, meraih gelar insinyurnya dalam bidang Teknik Sipil. Lama studi untuk menjadi insinyur adalah empat tahun. Sampai dengan ditutupnya pada tahun 1942, THS memiliki tiga bagian (afdeeling) yaitu Sipil (1920), Kimia (1940), Mesin dan Listrik (1941)[note 7]; namun dua bagian terakhir belum sempat meluluskan seorang insinyur.
Pada masa penjajahan Jepang, upaya untuk membuka kembali perkuliahan TH Bandung ditolak secara tegas, namun kegiatan penelitian di laboratorium-laboratorium yang ada di kampus TH Bandung diizinkan. Komunitas laboratorium tersebut dinamakan Institute of Tropical Scientific Research (Lembaga Penelitian Ilmiah Tropis) yang diawaki oleh banyak staf akademik TH Bandung. THS adalah sekolah Tinggi yang pertama di Indonesia, lama belajarnya lima tahun. Sekolah ini kemudian menjelma menjadi ITB.
1.      Sistem Pendidikan Masa Pemerintahan Jepang
 
Sistem prasekolah di jaman pendudukan Jepang banyak mengalami perubahan karena sistem penggolongan baik menurut golongan bangsa maupun menurut status sosial dihapus.Dengan demikian terdapat integrasi terhadap macam-macam sekolah yang sejenis.Sejak jaman Jepang bahasa dan istilah-istilah Indonesia mulai dipergunakan di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan.

a.       Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat).
 Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
b.      Pendidikan Lanjutan.
Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun

dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
c.       Pendidikan Kejuruan.
Mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
d.       Pendidikan Tinggi.
Guna memperoleh dukungan tokoh pribumi, Jepang mengawalinya dengan menawarkan konsep Putera Tenaga Rakyat di bawah pimpinan Soekarno, M. Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan K.H. Mas Mansur pada Maret 1943. Konsep ini dirumuskan setelah kegagalan the Triple Movement yang tidak menyertakan wakil tokoh pribumi.Tetapi PTR akhirnya mengalami nasib serupa setahun kemudian.Pasca ini, Jepang tetap merekrut Ki Hajar Dewantoro sebagai penasehat bidang pendidikan mereka.Upaya Jepang mengambil tenaga pribumi ini dilatarbelakangi pengalaman kegagalan sistem pendidikan mereka di Manchuria dan China yang menerapkan sistem Nipponize (Jepangisasi).Karena itulah, di Indonesia mereka mencobakan format pendidikan yang mengakomodasi kurikulum berorientasi lokal. Sekalipun patut dicatat bahwa pada menjelang akhir masa pendudukannya, ada indikasi kuat Jepang untuk menerapkan sistem Nipponize kembali, yakni dengan dikerahkannya Sendenbu (propagator Jepang) untuk menanamkan ideologi yang diharapkan dapat menghancurkan ideologi Indonesia Raya.
Kalau digambarkan,sistem persekolahan jaman pedudukan Jepang ini tidak jauh menyimpang (mirip) dengan sistem persekolah sesudah kemerdekaan. Yang berbeda hanya nama sekolah, sedangkan jenis sekolah kejuruannya jaman Jepang sangat terbatas.
2.      Sistem Pendidikan Masa Kemerdekaan
Pada dasarnya pendidikan pada masa Indonesia Merdeka tak jauh dengan sistem persekolahan hasil kebijakan pendudukan Jepang di atas. Pada masa ini, kualitas pendidikan masih dikatakan stabil dengan kurikulum mencomot dari apa yang dilakukan penguasa Jepang terhadap rakyat Indonesia. Hanya saja, karena persoalan revolusi yang belum selesai dan kemelut politik yang terus-menerus, maka sektor pendidikan menjadi korban kebijakan politik.Pendidikan mengalami sedikit pengabaian.Pendidikan di tingkat atas agak diabaikan sementara oleh pemerintah Indonesia sendiri. 
Pada masa awal kemerdekaan ini, guru-guru bekas pengajar pada masa kolonial Belanda dipekerjakan kembali meskipun dengan gaji yang lebih kecil.Kondisi yang berubah membuat mereka tidak terbiasa dengan keadaan. Banyak dari mereka yang masih menerapkan pola pengajaran ketat dan disiplin ala Belanda, sehingga cenderung menghasilkan setidaknya mutu lulusan yang sama dengan masa Kolonial Belanda. 

Ada 3 tingkat pendidikan yang dikenal dalam sistem  persekolahan di Indonesia.
a.       Tingkat pendidikan yang terendah adalah Sekolah Dasar. Lama pendidikan di sekolah ini 6 tahun.
b.      Tingkat pendidikan Sekolah Lanjutan, terbagi atas 2 tingkat:
1)      Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
2)      Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Pada tingkat sekolah ini, lama pendidikannya masing-masing 3 tahun, sekolah ini sudah terbagi atas jenis sekolah umum dan jenis sekolah kejuruan/tehnik.
c.       Tingkat pendidikan ketiga adalah Perguruan Tinggi
Pada tingkat ini, dikenal 2 macam pendidikan yaitu
1)      Pendidikan Akademi
Lama pendidikan Akademi 3 tahun untuk menghasilkan sarjana muda
2)      Pendidikan universitas/institut.
Lama pendidikan universitas/institute 5 tahun untuk menghasilkan sarjana. Pada jenis universitas/institute ini ada pula yang dinamakan Sekolah Tinggi.

3.      Sistem Pendidikan pada Masa Orde Baru
Orde baru berlangsung dari tahun 1968 hingga 1998, dan dapat dikatakan sebagai era pembangunan nasional.Dalam bidang pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan dasar, terjadi suatu loncatan yang sangat signifikan dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Pendidikan Dasar.Namun, yang disayangkan adalah pengaplikasian inpres ini hanya berlangsung dari segi kuantitas tanpa diimbangi dengan perkembangan kualitas.Yang terpenting pada masa ini adalah menciptakan lulusan terdidik sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kualitas pengajaran dan hasil didikan.
Pelaksanaan pendidikan pada masa orde baru ternyata banyak menemukan kendala, karena pendidikan orde baru mengusung ideologi “keseragaman” sehingga memampatkan kemajuan dalam bidang pendidikan. EBTANAS, UMPTN, menjadi seleksi penyeragaman intelektualitas peserta didik.
Pada pendidikan orde baru kesetaran dalam pendidikan tidak dapat diciptakan karena unsur dominatif dan submisif masih sangat kental dalam pola pendidikan orde baru. Pada masa ini, peserta didik diberikan beban materi pelajaran yang banyak dan berat tanpa memperhatikan keterbatasan alokasi kepentingan dengan faktor-faktor kurikulum yang lain untuk menjadi peka terhadap lingkungan. Beberapa hal negatif lain yang tercipta pada masa ini adalah:
1. Produk-produk pendidikan diarahkan untuk menjadi pekerja. Sehingga, berimplikasi pada hilangnya eksistensi manusia yang hidup dengan akal pikirannya (tidak memanusiakan manusia).
2. Lahirnya kaum terdidik yang tumpul akan kepekaan sosial, dan banyaknya anak muda yang berpikiran positivistik
3.  Hilangnya kebebasan berpendapat.
Pemerintah orde baru yang dipimpin oleh Soeharto megedepankan motto “membangun manusia Indonesia seutuhnya dan Masyarakat Indonesia”.Pada masa ini seluruh bentuk pendidikan ditujukkan untuk memenuhi hasrat penguasa, terutama untuk pembangunan nasional. Siswa sebagai peserta didik, dididik untuk menjadi manusia “pekerja” yang  kelak akan berperan sebagai alat penguasa dalam menentukan arah kebijakan negara. Pendidikan bukan ditujukan untuk mempertahankan eksistensi manusia, namun untuk mengeksploitasi intelektualitas mereka demi hasrat kepentingan penguasa.
Kurikulum-kurikulum yang digunakan pada masa orde baru yaitu sebagai berikut:
1.      Kurikulum 1968
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan.
Pada masa ini siswa hanya berperan sebagai pribadi yang masif, dengan hanya menghapal teori-teori yang ada, tanpa ada pengaplikasian dari teori tersebut.Aspek afektif dan psikomotorik tidak ditonjolkan pada kurikulum ini.Praktis, kurikulum ini hanya menekankan pembentukkan peserta didik hanya dari segi intelektualnya saja.
Salah satu sekolah pada tahun 1968
2.      Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan efisien berdasar MBO (management by objective). Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang  dikenal dengan istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional  umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.
Pada kurikulum ini peran guru menjadi lebih penting, karena setiap guru wajib untuk membuat rincian tujuan yang ingin dicapai selama proses belajar-mengajar berlangsung. Tiap guru harus detail dalam perencanaan pelaksanaan program belajar mengajar. Setiap tatap muka telah di atur dan dijadwalkan sedari awal. Dengan kurikulum ini semua proses belajar mengajar menjadi sistematis dan bertahap.
3.       Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung “process skill approach”. Proses menjadi lebih penting dalam pelaksanaan pendidikan. Peran siswa dalam kurikulum ini menjadi mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan.Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL).CBSA memposisikan guru sebagai fasilitator, sehingga bentuk kegiatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam kurikulum ini. Pada kurikulum ini siswa diposisikan sebagai subjek dalam proses belajar mengajar. Siswa juga diperankan dalam pembentukkan suatu pengetahuan dengan diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat, bertanya, dan mendiskusikan sesuatu.

salah satu sekolah di Magelang pada tahun 1984


4.      Kurikulum 1994
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984.Pada kurikulum ini bentuk opresi kepada siswa mulai terjadi dengan beratnya beban belajar siswa, dari muatan nasional sampai muatan lokal.Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.

Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat.Siswa dihadapkan dengan banyaknya beban belajar yang harus mereka tuntaskan, dan mereka tidak memiliki pilihan untuk menerima atau tidak terhadap banyaknya beban belajar yang harus mereka hadapi.

Komentar